Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SPEECH RECOGNITION

1.Teknologi Speech Recognition
Speech recognition adalah suatu pengembangan teknik dan sistem yang memungkinkan komputer untuk menerima masukan berupa kata yang diucapkan. Teknologi ini memungkinkan suatu perangkat untuk mengenali dan memahami kata-kata yang diucapkan dengan cara digitalisasi kata dan mencocokkan sinyal digital tersebut dengan suatu pola tertentu yang tersimpan dalam suatu perangkat.

Kata-kata yang diucapkan diubah bentuknya menjadi sinyal digital dengan cara mengubah gelombang suara menjadi sekumpulan angka yang kemudian disesuaikan dengan kode-kode tertentu untuk mengidentifikasikan kata-kata tersebut. Hasil dari identifikasi kata yang diucapkan dapat ditampilkan dalam bentuk tulisan atau dapat dibaca oleh perangkat teknologi sebagai sebuah komando untuk melakukan suatu pekerjaan.

2.Cara Kerja Speech Recognition
Teknologi Speech Recognition yang dikembangkan sejak sepuluh tahun lalu menghadapi dua pilihan, yakni menangkap percakapan terputus (kata per kata) atau percakapan tersambung (per kalimat). Komputer sebenarnya lebih mudah memahami suara untuk kata per kata, yang di antara masing-masing kata terdapat jeda, namun kebanyakan orang lebih menyukai jika teknologi ini mampu menangkap sebuah percakapan normal.

Untuk mengubah percakapan menjadi teks on-screen atau perintah tertentu, komputer melakukan beberapa langkah yang kompleks. Ketika berbicara, Anda mengeluarkan getaran di udara. Kemudian, analog-to-digital converter (ADC) yang ada di soundcard menerjemahkan gelombang analog ini menjadi data digital yang dapat dimengerti oleh komputer.

Untuk melakukan hal tersebut, sistem Speech Recognition melakukan sampling atau digitizing suara dengan cara mengambil ukuran yang paling pas dari gelombang. Sistem menyaring suara yang telah didigitalkan tersebut dan membuang gangguan (noise), dan kadang-kadang memisahkannya ke dalam pita frekuensi yang berbeda. Frekuensi adalah panjang gelombang suara, yang terdengar oleh telinga manusia sebagai tinggi nada (pitch) yang berbeda.

Sistem ini juga menormalkan suara, atau mengaturnya ke dalam tingkat volume yang tetap, terkadang juga mendatarkan suara. Manusia tidak berbicara dalam kecepatan yang sama sehingga suara harus diatur dengan kecepatan yang sama dengan sampel-sampel template suara yang tersimpan dalam komputer.

Langkah selanjutnya adalah memecah sinyal menjadi bagian-bagian kecil, dengan durasi seperseratus detik, atau bahkan seperseribu pada kasus bunyi-bunyi konsonan atau mati. Konsonan memberhentikan produksi suara dengan menghalangi aliran gelombang pada bidang vokal, seperti “p” atau “t”.

Program di komputer kemudian mencocokkan bagian-bagian kecil ini dengan fonem yang dikenal dalam bahasa tertentu. Fonem adalah elemen terkecil dalam sebuah bahasa, merepresentasikan suara yang kita hasilkan, dan merangkainya ke dalam bentuk ujaran yang memiliki makna.

Tahap berikutnya kelihatan sederhana, tapi pada dasarnya merupakan proses yang paling susah diselesaikan, sekaligus merupakan inti dari sebagian besar penelitian di bidang Speech Recognition. Komputer memeriksa fonem-fonem dalam konteks (hubungan) dengan fonem-fonem lain yang menyertainya.

Komputer menjalankan alur (plot) melalui sebuah model statistika yang kompleks, dan membandingkannya dengan koleksi kata, frase, dan kalimat yang telah dikenal. Program Speech Recognition selanjutnya menentukan apa yang mungkin dikatakan oleh pengguna, dan juga mengetikkannya sebagai teks atau mengeluarkannya sebagai perintah pada komputer.

3.Implementasi
Contoh yang paling sederhana pemanfaatan teknologi Speech Recognition adalah voice dial yang sempat menjadi fitur andalan ponsel-ponsel high-end akhir dekade yang lalu. Sedangkan pengaplikasian mutakhir teknologi ini dapat dijumpai pada layanan call center, kemudian secara otomatis komputer akan memberikan solusinya.

Penerapan Speech Recognition juga dapat ditemukan pada beberapa aplikasi komputer yang memungkinkan kita mengetik dokumen tanpa harus memencet tombol-tombol keyboard. Cukup dengan mendiktekan kalimat-kalimat, kemudian secara otomatis komputer akan mengetikkannya. Banyak software yang dirancang untuk mengetikkan apa yang kita katakan melalui microphone, seperti iListen untuk komputer Mac, dan software ViaVoice keluaran IBM.

Dari teknologi mobile, Samsung Electronics saat ini sedang bekerja pada pengembangan versi berikutnya dari platform mobile bada untuk smartphone. Salah seorang eksekutif Samsung mengatakan bahwa mereka ingin menjadikan bada sebagai alternatif software terbaik untuk Google Android.

Samsung sangat serius dalam pengembangan software bada setelah beberapa produk Android mereka terkena imbas dalam sengketa perang paten dengan Apple sehingga tidak bisa dijual di beberapa negara Eropa dan Australia. Selain itu pembelian Motorola Mobility oleh Google juga dikhawatirkan dapat mengurangi ketergantungan pemilik Android itu pada pemasok hardware lainnya, termasuk Samsung. Samsung saat ini telah memiliki keuntungan dari popularitas Android sehingga menjadi perusahaan terdepan yang bersaing untuk menantang Apple di pasar smartphone.

Versi terbaru dari bada 2.0 yang diresmikan pada bulan Februari kemarin, memiliki dukungan mobile-payment, Wi-Fi Direct, Web App dan fitur baru lainnya. Lee mengatakan bahwa perusahaannya belum memutuskan kapan akan memperkenalkan versi terbaru dari bada berikutnya atau berapa banyak software akan berubah.

Samsung juga mengembangkan teknologi pengenalan suara (voice-recognition) yang dapat digunakan untuk fitur yang mirip dengan layanan terbaru Siri milik Apple, kata Lee. Siri, yang termasuk dalam fitur unggulan Apple iPhone 4S terbaru, memungkinkan pengguna meminta update cuaca, membuat janji pada kalender atau mengirim pesan dengan suara.

Sumber : http://badaindonesia.blogspot.com/
http://togaptar.wordpress.com/tag/speech-recognition/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perkembangan Industri Telematika di Indonesia

Investasi bisnis di sektor industri telematika Indonesia diyakini bisa melesat tajam hingga lima kali lipat dalam tiga tahun mendatang jika seluruh pemangku kepentingan berkomitmen dalam mendukung pengembangan infrastruktur teknologi komunikasi informasi (ICT).


Melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), investasi telematika diproyeksi meningkat jadi Rp 30,5 triliun di tahun 2014, dari nilai investasi yang tengah berjalan 2011 ini yang berjumlah Rp 6,2 triliun.


"Hari ini semua menteri industri terkait telah sepakat untuk menjadikan ICT dan infrastruktur broadband sebagai enabler pertumbuhan ekonomi di Indonesia," kata Eddy Satria, Asdep Utilitas dan Telematika Kemenko Perekonomian, dalam acara Indonesia Broadband Economy Forum, di Hotel Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (21/9/2011).


Menurut Eddy, komitmen pembangunan ICT broadband ini penting agar Indonesia di kemudian hari mampu bersaing dengan negara lain seperti China, Korea Selatan, bahkan Amerika Serikat.


Dari nilai Rp 30,5 triliun yang diproyeksikan di 2014, mayoritas investasi masih datang dari raksasa BUMN telekomunikasi Telkom, dengan nilai Rp 21 triliun untuk pembangunan backbone fiber optik. Sementara Rp 5 triliun lainnya datang dari PT INTI untuk pengembangan fiber optik.


Investasi lain dari Telkomsel Rp 2 triliun untuk pembangunan broadband city di 40 kota, dan Rp 2 triliun lagi dari Indosat yang membangun fiber optik dan meluncurkan satelit baru di slot orbit 150,5. Sedang sisanya, datang dari investasi Xirca yang membangun pabrik perangkat base station dan CPE untuk Wimax 16m dan LTE, serta PT Hariff untuk Wimax 16e dan 16m.


Untuk investasi on going tahun ini, yang tercatat oleh MP3EI adalah XL Axiata yang tengah gencar membangun jaringan 3G dengan nilai Rp 6 triliun, Xirca untuk pengembangan Wimax 16d dan 16e sebesar Rp 30 miliar, kerjasama Xirca-Huawei untuk pabrik perangkat base station dan CPE Rp 45 miliar, dan Rp 50 miliar dari Hariff untuk Wimax Nomadic.


Pembangunan backbone fiber optik Sumatera-Kalimantan yang dibangun oleh Bakrie Telecom sebesar Rp 60 miliar juga tercatat oleh MP3EI. "Sayangnya Bakrie belum mau membuka semua. Mereka masih menjaga kerahasiaan data investasi mereka," pungkas Eddy.







::Sumber::
http://forum.kompas.com/telekomunikasi/42362-bisnis-telematika-indonesia-melesat-rp-30-5-triliun-di-2014-a.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Telematika untuk Mengatasi Kemacetan

Kemacetan lalu lintas di jalan raya, termasuk di jalan tol, tidak hanya dialami di kota-kota besar di Indonesia, terutama ketika musim libur. Masalah yang sama juga memusingkan pemerintah negara paling maju di dunia, Amerika Serikat. Pasalnya, selain membuat waktu perjalanan makin lama, polusi bertambah, pemborosan bahan bakar juga meningkat.

Di Indonesia kondisi tersebut lebih parah! Karena, bahan bakar bersubsidi digunakan kalangan pemilik mobil lama (lebih boros konsumsi bahan bakarnya) dan kendaraan umum berhenti di sembarang tempat dan menyebabkan kemacetan (makin boros lagi).
Inovatif
Untuk mengurai kemacetan yang membuat tingkat stres pengemudi makin tinggi, kini Pemerintah Amerika Serikat berencana meningkatkan penggunaan telematika. Oleh karena itu, lembaga semacam dinas perhubungan darat di negara tersebut, yaitu U.S. Federal Highway Administration, berharap telematika bisa mengurangi kemacetan. Lembaga tersebut telah melakukan tes di lapangan dan mendanai proyek untuk membantu memperoleh ide-ide baru.

Dijelaskan, membatasi orang menggunakan mobil—mengurangi kemacetan—ternyata bukan solusi tepat. “Apakah pemerintah federal mau membayar orang untuk tidak mengunakan mobilnya?” ujar Allen Greenberg, Senior Policy Analyst di US Department of Transportation Federal Highway Administration.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendanai sejumlah proyek inovatif. “Kami tertarik dengan inovasi, ingin sesuatu yang baru. Kami sedang mencoba insentif agar orang mau mengurangi penggunaan mobil dan menghemat bahan bakar. Tujuan akhirnya mengurangi kemacetan dan meningkatkan keselamatan,” lanjutnya.

Dijelaskan, berdasarkan sebuah penelitian oleh provider data lalu lintas, Inrix, disimpulkan, pengurangan 3 persen jarak tempuh akan menurunkan kemacetan 30 persen. “Jika anda ingin menurunkan kemacetan sampai 30 persen dengan membangun jalan baru, biayanya pasti lebih besar lagi,” tegas Greenberg.

PAYDAYS
Salah satu konsep yang dieksplorasi disebut PAYDAYS (Pay As You Drive and You Save). Konsep dapat diterapkan dengan sistem telematika karena tujuan dan gerakan kendaraan bisa dilacak dengan mudah.

Mark Grant, Development Director at InsureTheBox, sebuah provider independen, mengatakan, konsep bayar tersebut dapat dijalankan berdasarkan operasional kendaraan. Bahkan perusahaan asuransi dan lembaga pemerintah ingin membantu konsep tersebut.

Metode pay-as-you-drive akan mengurangi jarak tempuh kendaraan. “Jika orang pergi berlibur dan menggunakan mobil sejauh mungkin, mereka dikenai biaya lebih besar,” kata Grant.

Dijelaskan pula, untuk memantau jarak perjalanan, dilakukan dengan mengubah cara pemeliharaan jalan tol dan mendanai infrastruktur lainya. Sedangkan elektrifikasi kendaraan (penggunaan mobil listrik) tidak cocok dengan sistem tersebut. Pasalnya, dana untuk membangun jalan berasal dari pajak bahan bakar.

“Kami sedang mencari bentuk baru, difokuskan untuk memantau pengemudi,” kata Grant. Ia mengatakan, di negara-negara Eropa, salah satunya Belanda, telah menerapkan sistem biaya jalan tol berdasarkan jarak tempuh.



:: Sumber ::
http://otomotif.kompas.com/read/2010/12/03/13170466/Telematika.untuk.Mengatasi.Kemacetan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perbedaan Rancangan Terstruktur dan Rancangan Berorientasi Objek pada Perancangan Sistem Informasi

Perbedaan Perancangan Terstruktur dan Perancangan Berorientasi Objek :

1. Definisi

Perancangan Terstruktur adalah aktivitas mentransformasikan suatu hasil analisis ke dalam suatu perencanaan untuk dapat diimplementasikan ( diotomasikan).

Perancangan berorientasi objek adalah Suatu teknik atau cara pendekatan baru dalam melihat permasalahan dan sistem (sistem perangkat lunak. Sistem informasi, atau sistem lainnva). Pendekatan berorientasi objek akan memandang sistem yang akan dikembangkan sebagai suatu kumpulan objek yang berkorespondensi dengan objek-objek dunia nyata.

2. Tools yang digunakan

Terstruktur :

· DFD( Data Flow Diagram ).

  • Kamus Data
  • Entity Relationship Diagram (ERD)
  • State Transition Diagram (STD)

Perancangan Berorientasi Objek :

  • Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) dari Peter Coad dan Edward Yourdon [1990].
  • Object Modeling Technique (OMT) dan James Rumbaugh, Michael Blaha, William Premerlan, Frederick Eddy dan William Lorensen [1991].
  • Object Oriented Software Engineering (OOSE) dan Ivar Jacobson [1992].
  • Booch Method dan Grady Booch [1994].
  • Sritrop dan Steve Cook dan John Daniels [1994].
  • UML (Unified Modeling Language) dari James Rumbaugh. Grady Booch dan Ivar Jacobson [1997].

3. Kelebihan :

Terstruktur :

  • Milestone diperlihatkan dengan jelas yang memudahkan dalam manajemen proyek
  • SSAD merupakan pendekatan visual, ini membuat metode ini mudah dimengerti oleh pengguna atau programmer.
  • Penggunaan analisis grafis dan tool seperti DFD menjadikan SSAD menjadikan bagus untuk digunakan.
  • SSAD merupakan metode yang diketahui secara umum pada berbagai industry.
  • SSAD sudah diterapkan begitu lama sehingga metode ini sudah matang dan layak untuk digunakan.
  • SSAD memungkinkan untuk melakukan validasi antara berbagai kebutuhan
  • SSAD relatif simpel dan mudah dimengerti.

Berorientasi Objek :

  • Dibandingkan dengan metode SSAD, OOAD lebih mudah digunakan dalam pembangunan sistem
  • Dibandingkan dengan SSAD, waktu pengembangan, level organisasi, ketangguhan,dan penggunaan kembali (reuse) kode program lebih tinggi dibandingkan dengan metode OOAD (Sommerville, 2000).
  • Tidak ada pemisahan antara fase desain dan analisis, sehingga meningkatkan komunikasi antara user dan developer dari awal hingga akhir pembangunan sistem.
  • Analis dan programmer tidak dibatasi dengan batasan implementasi sistem, jadi desain dapat diformliasikan yang dapat dikonfirmasi dengan berbagai lingkungan eksekusi.
  • Relasi obyek dengan entitas (thing) umumnya dapat di mapping dengan baik seperti kondisi pada dunia nyata dan keterkaitan dalam sistem. Hal ini memudahkan dalam mehami desain (Sommerville, 2000).
  • Memungkinkan adanya perubahan dan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kebernaran software yang membantu untuk mengurangi resiko pada pembangunan sistem yang kompleks (Booch, 2007).
  • Encapsliation data dan method, memungkinkan penggunaan kembali pada proyek lain, hal ini akan memperingan proses desain, pemrograman dan reduksi harga.
  • OOAD memungkinkan adanya standarisasi obyek yang akan memudahkan memahami desain dan mengurangi resiko pelaksanaan proyek.
  • Dekomposisi obyek, memungkinkan seorang analis untuk memcah masalah menjadi pecahan-pecahan masalah dan bagian-bagian yang dimanage secara terpisah. Kode program dapat dikerjakan bersama-sama. Metode ini memungkinkan pembangunan software dengan cepat, sehingga dapat segera masuk ke pasaran dan kompetitif. Sistem yang dihasilkan sangat fleksibel dan mudah dalam memelihara.

4. Kekurangan

Terstruktur :

  • SSAD berorientasi utama pada proses, sehingga mengabaikan kebutuhan non-fungsional.
  • Sedikit sekali manajemen langsung terkait dengan SSAD
  • Prinsip dasar SSAD merupakan pengembangan non-iterative (waterfall), akan tetapi kebutuhan akan berubah pada setiap proses.
  • Interaksi antara analisis atau pengguna tidak komprehensif, karena sistem telah didefinisikan dari awal, sehingga tidak adaptif terhadap perubahan (kebutuhan-kebutuhan baru).
  • Selain dengan menggunakan desain logic dan DFD, tidak cukup tool yang digunakan untuk mengkomunikasikan dengan pengguna, sehingga sangat sulit bagi pengguna untuk melakukan evaluasi.
  • Pada SAAD sulit sekali untuk memutuskan ketika ingin menghentikan dekomposisi dan mliai membuat sistem.
  • SSAD tidak selalu memenuhi kebutuhan pengguna.
  • SSAD tidak dapat memenuhi kebutuhan terkait bahasa pemrograman berorientasi obyek, karena metode ini memang didesain untuk mendukung bahasa pemrograman terstruktur, tidak berorientasi pada obyek (Jadalowen, 2002).


Berorientasi objek :

  • Pada awal desain OOAD, sistem mungkin akan sangat simple.
  • Pada OOAD lebih fockus pada coding dibandingkan dengan SSAD.
  • Pada OOAD tidak menekankan pada kinerja team seperti pada SSAD.
  • Pada OOAD tidak mudah untuk mendefinisikan class dan obyek yang dibutuhkan sistem.
  • Sering kali pemrogramam berorientasi obyek digunakan untuk melakukan anlisisis terhadap fungsional siste, sementara metode OOAD tidak berbasis pada fungsional sistem.
  • OOAD merupakan jenis manajemen proyek yang tergolong baru, yang berbeda dengan metode analisis dengan metode terstruktur. Konsekuensinya adalah, team developer butuh waktu yang lebih lama untuk berpindah ke OOAD, karena mereka sudah menggunakan SSAD dalam waktu yang lama ( Hantos, 2005).
  • Metodologi pengembangan sistem dengan OOAD menggunakan konsep reuse. Reuse merupakan salah satu keuntungan utama yang menjadi alasan digunakannya OOAD. Namun demikian, tanpa prosedur yang emplisit terhadap reuse, akan sangat sliit untuk menerapkan konsep ini pada skala besar (Hantos, 2005).




Sumber :

http://supriliwa.wordpress.com/2010/05/07/perbandingan-metode-terstruktrur-dan-obyek-oriented-pada-pengambangan-sistem-informasi/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS